Tuesday, January 27, 2009

Sewindu

HARI ini, 27 Januari, tepat sewindu kami menjalin pertemanan. Lebih dari sekadar pertemanan malah, tetapi juga persahabatan, persaudaraan, dan harapan untuk membangun sebuah keluarga kecil dengan anak-anak yang lucu.
Ya, delapan tahun. Konon angka delapan memiliki arti khusus. Dari browsing ala kadarnya di internet, saya menemukan ulasan tentang The Mystery of Numbers karya Annemarie Schimmel. Pada bab 17 buku itu, Schimmel membubuhkan judul yang berbunyi, “Delapan: Angka Keberuntungan”.
Schimmel, yang juga dikenal sebagai penafsir puisi-puisi mistik Muhammad Iqbal, menyebut bahwa bintang bertitik delapan atau oktagon pada masa silam dipercaya orang-orang Yahudi dan Kristen sebagai simbol keberuntungan. Makam-makam St Priscilla di Roma, kata Schimmel, amat banyak dihiasi simbol-simbol oktagon, selain gambar Perawan Maria.
Begitu pula dalam kepercayaan bangsa Tionghoa, delapan adalah simbol kesempurnaan dan keberuntungan. Angka delapan yang ditulis dengan garis yang terus tersambung dari titik awal sampai titik akhir tanpa putus adalah simbol kesempurnaan.
Begitu pula dengan mitologi Delapan Dewa atau dalam bahasa Mandarin disebut Ba Xian(Hanzi:八仙) yang berasal dari tradisi Taoisme, merupakan dewa-dewi yang amat dikenal dalam tradisi literatur dan seni Tiongkok.
Mereka ( Zhong Li Quan, Li Tie Guai, Lu Dong Bin, Zhang Guo Lao, He Xian Gu, Lan Cai He, Han Xiang Zi, Cao Guo Jiu) adalah simbol keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Masing-masing dewa mewakili 8 kondisi kehidupan : anak muda, lansia, kemiskinan, kekayaan, rakyat jelata, ningrat, pria dan wanita.
Wikipedia menyebutkan, mitologi Delapan Dewa lahir pada jaman dinasti Tang dan dinasti Sung. Walaupun penjelasan mengenai mereka telah ada sejak dinasti Tang, namun pengelompokkan ke dalam kategori delapan dewa baru terjadi pada masa dinasti Ming.
Apapun itu, bolehlah saya berharap ulang tahun sewindu kali ini menjadi momen yang membahagiakan, sekaligus menabalkan tekad untuk meraih mimpi-mimpi. “Happy Anniversary”...

Saturday, December 27, 2008

Pesona Toraja (2)

SITUS lain yang membikin penasaran untuk dikunjungi adalah kompleks makam bayi dalam pohon di Kambira. Lokasi ini letaknya tak jauh dari Londa. Di Kambira, anda dapat melihat pohon Tarra’, tempat bayi-bayi yang telah meninggal dimakamkan.
Pohon Tarra’ ini memiliki diameter cukup besar, sekitar 80-100 cm. Pohon ini dilubangi untuk menaruh jasad bayi, kemudian ditutup dengan ijuk. Upacara pemakaman seperti ini dilakukan oleh pengikut Aluk Todolo (pengikut para leluhur). Bayi yang dikuburkan dalam pohon itu tidak dibungkus kain, sehingga benar-benar seperti bayi yang berada dalam rahim sang ibu. Sebatang pohon Tarra’ dapat dilubangi untuk lebih dari satu makam bayi. Semakin tinggi status sosial keluarga bayi yang meninggal, semakin tinggi letak lobangnya pada pohon.
Untuk mengunjungi situs-situs itu, anda tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Jika anda termasuk golongan “backpacker”, anda cukup membayar Rp 80 ribu ongkos bus dari Makassar sampai Rantepao. Dari sini, anda dapat memulai perjalanan dengan melihat-lihat pasar suvenir. Situs-situs makam kuno Ketekesu, Londa, Lemo, atau Kambira berada tak jauh dari Rantepao. Anda bisa menjangkaunya dengan ojek atau angkutan umum.